Menyeberangi Waktu - Muhammad Faruq Nuruddinsyah
Menyeberangi Waktu

Aku lahir di Medang Kamulan
Di pulau tersendiri
Tebu-tebu menari bersama hamburan padi
Penduduk duduk-duduk manis melingkar
Bersyukur di atas suburnya pijakan mereka

Aku menyeberangi waktu
Sampai tiba di Sundapura
Tak jauh berbeda dari tanahku
Penduduk duduk-duduk manis melingkar
Bersyukur di atas suburnya pijakan mereka

Abad-abad berganti
Medang Kamulan dan Sundapura berganti Galuh, Sunda, Kalingga
Juga Galuh, Sunda, Kalingga berganti Pajajaran, Demak, Majapahit
Tak jauh berbeda dari tanahku

Aku melanjutkan menyeberangi waktu
Sampai tiba di sebuah pantai
Disana kapal-kapal beringas berdatangan
Menurunkan orang-orang asing tak ramah pribumi
Merampas, merampok, dan menjajah tanah dan budaya

Berabad-abad berganti
Tanahku yang dulu beradab
Kini beralih ke orang-orang asing tak beradab
Tatanan penduduk bersandar pada kolonial
Penduduk terbelenggu dan hanya bisa menunggu ajal

Tanahku kini terbelenggu
Tebu-tebu tak lagi menari bersama hamburan padi
Penduduk duduk-duduk menangis melingkar
Berduka di atas suburnya pijakan mereka

Aku memutuskan untuk melanjutkan lagi
Menyeberangi waktu
Sampai tiba di sepetak tanah kota
Yang terasa asing namanya: Metropolitan

Disini aku tak lagi melihat orang-orang asing yang beringas
Mereka tak lagi berkeliaran
Tapi di tanah ini aku masih melihat jelas jejaknya
Tatanan penduduk masih bersandar pada kolonial
Yang tak ramah penduduk
Tatanan menjadi roda yang menguntungkan penguasa
Yang menjelma menjadi prasasti mati tak berguna untuk penduduk

Tanahku masih terbelenggu
Tebu-tebu dan hamburan padi kini lumpuh
Berganti tebu-tebu dan padi asing
Penduduk duduk-duduk menangis melingkar
Berduka di atas suburnya pijakan mereka


(Depok, 19 Januari 2019)


Tanggal posting: 13 Juni 2020 - Kategori: Catatan Sastra